Dosen International Institute for Islamic Studies sekaligus warga negara Iran, Qasem Muhammadi, menyatakan mayoritas warga Iran tidak menaruh harapan besar terhadap perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang digelar di Islamabad, Pakistan.
Dalam program Kompas Petang KompasTV, Minggu (12/4/2026), Qasem mengungkapkan bahwa publik Iran cenderung pesimistis terhadap hasil negosiasi tersebut. Ia menilai sikap AS menjadi salah satu penyebab utama kegagalan perundingan.
“Sejak awal kita tidak ada harapan besar bahwa itu akan berhasil memberikan hasil yang baik untuk rakyat Iran,” ujar Qasem.
Ia juga menegaskan bahwa menurut pandangannya, keputusan ada di tangan AS apakah akan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi atau justru memilih konfrontasi.
“Itu problem mereka. Mereka harus menentukan apakah ingin menyelesaikan masalah ini dengan diplomasi atau dengan perang,” tambahnya.
Qasem menyebut pemerintah dan militer Iran telah menunjukkan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik, termasuk dengan AS dan sekutunya. Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, situasi di Iran relatif lebih tenang meski belum sepenuhnya stabil.
Ia yang saat ini berada di Qom, sekitar 120 kilometer dari Teheran, mengatakan wilayahnya sempat mengalami serangan sebelum adanya penghentian sementara. Menurutnya, serangan lebih sering menyasar kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan Iran di Islamabad telah berakhir tanpa kesepakatan.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan itu merupakan kabar buruk bagi Iran, bahkan lebih buruk dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ujarnya.
Dari pihak Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmail Baghaei, menjelaskan bahwa kegagalan perundingan disebabkan adanya perbedaan pandangan pada sejumlah isu krusial.
“Dalam beberapa isu kami telah mencapai kesepahaman, tetapi ada perbedaan pada dua atau tiga isu penting,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kompleksitas meningkat karena munculnya isu-isu baru dalam perundingan, termasuk terkait Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya.
Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Muhammad Ishaq Dar, menyerukan kedua pihak untuk tetap menjaga gencatan senjata.
Ia berharap Iran dan AS dapat melanjutkan dialog dengan semangat positif demi terciptanya perdamaian dan stabilitas kawasan.
“Sangat penting bagi para pihak untuk terus menjunjung komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” ujarnya.